Intip Seberapa Jauh Perbandingan Tarif Listrik di Negara ASEAN


Listrik memang jadi kebutuhan yang nggak bisa dilepasin dari kehidupan kita semua. Dari mulai mau tidur sampai bangun lagi, listrik punya pengaruh yang besar. Coba tengok, aktivitas apa di zaman sekarang yang nggak pakai listrik? Mungkin bisa dihitung oleh jari.

Dulu, saat Tarif Dasar Listrik (TDL) belum resmi dinaikkan oleh pemerintah, kita kurang mikirin berapa banyak uang yang harus dikeluarin tiap bulannya. Asalkan ada listrik, semua bakal mudah. Sekarang, saat TDL 900 VA resmi naik, pasti bakal mikir-mikir lagi kalau mau nyalain TV, mesin cuci, lampu belajar, dan lain-lain.

Kenaikan ini tentu bikin kita ngerasa kalau tarif listrik jadi mahal banget. Udah gitu, mau nyalain lampu lama jadi takut kalau tagihan listrik membengkak. Wah, kok jadi horor ya? Tapi, meski agak mahalan dikit, kalau dibandingkan dengan sederet negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN, Indonesia tergolong ke barisan menengah lho!

tarif listrik di negara asean

Kira-kira kalau menengah itu masuknya mahal atau murah ya? Nah, biar lebih jelas lagi, ada bagusnya sekarang kita cermati satu per satu TDL negara yang tergabung dalam ASEAN.

  1. Indonesia dan Vietnam

Dari data yang ditulis oleh Kementerian ESDM pada minggu lalu, tarif listrik Indonesia untuk golongan rumah tangga tercatat sebesar US$11,03 sen per kWh (kilo Watt Hour).  Tapi kalau dibandingin dengan Vietnam, mereka 0,83% lebih tinggi atau setidaknya tarif pelanggan bisnis menengah di negara itu sebesar US$11,90 sen per kWh.

  1. Indonesia dan Malaysia

Malaysia bisa dibilang kedudukannya setara dengan Vietnam buat tarif pelanggan bisnis menengahnya. Jadi, tarif buat Indonesia masih di bawah kedua negara itu.

  1. Indonesia dan Singapura

Cuma melihat gimana infrastruktur dan gimana gaya hidup di Singapura dari TV, kita pasti bisa nebak gimana tarif tenaga Listrik mereka (TTL) mereka. Yups, buat pelanggan bisnis menengah mereka lebih tinggi daripada Indonesia, Vietnam, bahkan Malaysia sekali pun. Berbanding lurus, buat tarif tenaga listriknya mereka juga tinggi, yakni USS$15,99 sen per kWh, hampir aja mendekati angka 16 sen.

  1. Indonesia dan Filipina

Ternyata tarif tenaga listrik di Filipina juga cenderung tinggi banget. Ya, memang nggak lebih tinggi dibanding Singapura sih, tapi angka US$15.36 kan sudah lumayan buat mengungguli Indonesia.

  1. Indonesia dan Thailand

Banyak banget yang bilang kalau Thailand itu nggak beda sama Indonesia. Bahkan ada yang mengklaim kalau kehidupan dan apa aja di Thailand itu persis kayak Indonesia. Ibarat angka 11-12 gitu. Tapi, anggapan itu sepertinya harus dimentahin oleh fakta kalau tarif listrik mereka lebih mahal, yakni US$12,04 sen per kWh.

Dari yang disebutin itu belum masuk angka pelanggan bisnis besarnya lho guys.. Tahu nggak? Meski tarif listrik Indonesia diklaim lebih murah dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara lainnya, dasar itu nggak bisa digunakan. Pertama, kita udah beda kebutuhan, tingkat penduduk, dan managing tenaga listrik dari pihak pemerintah. Jadi, meski mau dibilang murah atau menengah, cara pemerintah beserta jajaran PLN dalam memasok listrik ke seluruh pelosok di dalam negeri terhitung lebih penting.

Bukan cuma itu aja, tarif tenaga listrik yang sudah ditetapkan sejak Juli 2017 lalu bakal memasuki masa akhir, yaitu desember 2017. Setelah ini, kita belum tahu apakah TDL akan naik atau masih tetap di angka yang sama.


3 Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Properti


Setelah bidang perindustrian mengalami stagnasi, bisnis properti mulai dilirik oleh pemilik modal karena trennya yang menguat seiring pertambahan jumlah penduduk yang membutuhkan tempat tinggal. Bahkan bisnis properti bisa dikatakan sebagai bisnis yang memiliki daya tahan cukup kuat melewati berbagai krisis yang kerap terjadi di suatu negara.

Asosiasi Real Estate Indonesia (REI) yang didapuk sebagai wadah dari pengusaha properti di Indonesia merilis hasil penghimpunan datanya mengenai kenaikan pertumbuhan bisnis properti di Indonesia yang mencapai 30 persen. Peningkatan ini salah satunya didorong oleh faktor LTV atau Loan To Value yang terkait dengan besaran uang muka (down payment) yang harus dibayarkan oleh konsumen. Bahkan besaran angsuran kedua dan ketiga juga memberi porsi pada peningkatan pertumbuhan ini.

tips beli properti

Dengan maraknya bisnis properti, mengundang pula pihak-pihak yang hendak mencicipi manisnya bisnis ini. Salah satunya dengan melakukan penipuan yang mengakibatkan kerugian dengan nilai yang sangat besar. Dengan sistem DP dan hanya bermodal maket serta brosur berwarna yang menarik, telah mampu menghipnotis calon konsumen yang memang benar-benar membutuhkan rumah, memberikan uang tanda jadi hingga uang muka kepada developer abal-abal. Praktik-praktik seperti ini cukup banyak. Namun, pihak kepolisian belum mampu melindungi masyarakat dengan menangkap pelakunya atau memberikan perlindungan yang cukup sehingga masyarakat bisa terhindar dari penipuan.

Untuk memastikan developer memiliki bisnis properti yang legal atau tidak, ada baiknya kita menyimak beberapa tips di bawah ini sebelum memutuskan untuk membeli property.

  1. Reputasi Developer

Sebagai nasabah, sudah seharusnya kita mempelajari dan mengenali developer yang menawarkan properti. Karena dalam bisnis properti, developer tidak wajib mempunyai produk yang sudah jadi sehingga produk yang ditawarkan masih berupa desain dan janji-janji. Nasabah diyakinkan melalui maket dan brosur penuh warna yang menarik mata yang biasanya ditawarkan di dalam pameran perumahan atau di mal-mal. Terkadang iming-iming bonus produk dan diskon mampu membuat nasabah lengah akan reputasi developer.

Cara mengenali reputasi developer yaitu dengan mengetahui izin yang dimiliki oleh developer dan izin-izin yang dibutuhkan untuk membangun properti seperti IMB dan izin legal lainnya yang bisa dicek di departemen terkait. Jangan merasa takut untuk menanyakan dokumen legal ini, karena setiap nasabah sebagai konsumen berhak mendapatkan informasi lengkap yang terkait dengan properti.

developer rumah wanprestasi

  1. Cermati kontrak

Kontrak menjadi tanda jadi nasabah dengan developer. Sehingga setiap ketentuan dan sanksi dituangkan secara detail di dalam surat kontrak. Luangkan waktu untuk memahami isi kontrak. Jika tidak mampu, bertanyalah pada mereka yang memiliki kemampuan dan pemahaman di bidang hukum dan dokumen kontrak untuk menghindari dampak hukum yang berujung pada kasus penipuan atau perdata.

  1. Hubungan yang baik dengan developer

Karena pembelian properti bersifat jangka panjang, hubungan baik dengan developer harus tetap dijaga untuk mencegah miskomunikasi. Jangan sampai proses pembelian belum selesai, developer lepas tangan dan nasabah tidak bisa menyampaikan keluhan terkait dengan haknya sebagai pembeli. Sedangkan kewajiban membayar angsuran setiap bulannya tidak berhenti begitu saja.

Hubungan baik ini juga akan berpengaruh pada komplen ketidaksesuaian pemenuhan janji yang tertuang di dokumen kontrak. Belakangan, terdapat kasus pembelian properti di mana developer lepas tangan dan nasabah pembeli properti tidak mendapatkan haknya dan tidak memiliki saluran untuk menyampaikan keluhannya. YLKI sebagai mediasi tidak mampu memberikan solusi kepada konsumen dan memaksa developer memenuhi janjinya.

Bisnis properti yang menjamur tentu akan juga bisa membawa dampak negatif berupa penipuan dan wan prestasi dari developer. Hal yang pertama dan utama yang bisa kita lakukan adalah menjadi konsumen cerdas dan kritis. Semoga tulisan ini bermanfaat.